MUSTASNA’





Pengertian
Mustasna’  (مستثنى ) yaitu isim manshub yang terletak setelah salah satu huruf istisna’ untuk menjelaskan hukum yang berbeda dengan sebelumnya. Isim yang terletak sebelum huruf istisna’ disebut mustatsna’ minhu (مستثنى منه  ).
Contoh:
جاءَ التلاميذُ إلاّ عليّاً  [ التلاميذ : مستثنى منه ، و عليا : مستثنى ].
Kata “  إلاّ   adalah salah satu huruf istitsna’. Kata sebelumnya yaitu “التلاميذُ  “ disebut mustatsna’ minhu (مستثنى منه), dan kata setelahnya “  عليّاً “ disebut dengan mustatsna’ (مستثنى).
             Mustatsna’ terbagi dua;
a.    Muttashil ( متصل  )
Yaitu mustatsna yang merupakan bagian dari jenis mustatsna’ minhu.
Contoh:
جاءَ المُسَافِرُوْنَ إِلَّا سعيداً . : para musafir telah datang kecuali Sa’id.
Mustatsna’ muttashil ini berfungsi sebagai takhshis (khusus) setelah ta’mim (umum)
b.   Munqathi’ ( منقطع  )
Yaitu muststsna’ yang tidak berasal dari jenis mustatsna’ minhunya.
Contoh:
احْتَرَقَتْ الدارُ إلاّ الكتُبَ. : Rumah itu terbakar kecuali beberapa guru .
Mustatsna’ munqati’ memfaedahkan istidra’ bukan takhsis.
Huruf-huruf Istitsna’
Istitsna’ memiliki 8 huruf  , yaitu:
إلاّ و غيرٌ و سِوًى و خَلا و عَدا و حَاشَا و ليسَ و لا يكونُ .
Penggunaan huruf-huruf tersebut dibagi menjadi empat, yaitu:
1.     المُسْتَثْنَى بِإلاَّ المُتَّصِل
Mustatsna’ jenis ini mempunyai tiga keadaan:
o  Wajib Nashab
Yaitu apabila kalamnya tam lagi mujab, mustatsna’nya disebutkan baik letaknya sebelum atau pun sesudah mustasna’.
Contoh:
المثل الأول : ينجحُ التلاميذُ إلا الكسولَ
 المثل الثاني : ينجحُ إلاّ الكسولَ التلاميذُ .
o  Jawaz Nashab dan Badaliyah
Yaitu apabila kalamnya tam manfiy atau syibh manfiy, disebutkan mustasna’ minhunya.
Contoh tam manfiy :
ما جاء القومُ إلا عليًّا [عليا : مستثنى منصوب].
ما جاء القومُ إلأ عليٌّ [ عليٌّ : بدل ل " القوم " مرفوع].
Contoh syibh manfiy:
لا يَقمْ أحدٌ إلاّ سعيدٌ ، وإلا سعيداً.
 وهل فعلَ هذا أحدٌ إلا أنت، وإلا إياك!
o  Sesuai dengan jabatannya dalam kalimat.
Yaitu apabila kalamnya manfiy atau syibh manfiy, dan mustasna’nya tidak disebutkan.
Contoh:
مثل : ما جاءَ إلا عليٌّ [ عليٌّ : فاعل مرفوع ] .
  ما رأيتُ إلا عليّاً [ عليًّا : مفعول به منصوب ] .
  ما مررتُ إلا بعليّ [ عليٍّ : اسم مجرور ].
2.المُستثنى بإلا منقطعاً
Mustatsna’ jenis ini harus nashab, baik letaknya sebelum atau sesudah mustatsna’ minhu, atau apakah kalamnya mujab atau manfiy.
Contoh:
جاءَ المسافرونَ إلا أمتعتَهم. [أمتعة : مستثنى منصوب ] .
جاءَ إلا أمتعتَهمُ المسافرون. [أمتعة : مستثنى منصوب ].
ما جاءَ المسافرون إلا أمتعتَهم [أمتعة : مستثنى منصوب ] .
3.المستثنى بغير و سوى
Mustatsna’ jenis ini majrur selamanya melalui idhafah.
Contoh:
جاءَ القومُ غيرَ عليّ .
 جاءَ القومُ سوى خالدٍ .
Kedua mustatsna’ ini menggunakan hukum المستثنى بإلا dalam i’rab.
Contoh:
مثل : مَا جَاءَ غيرَ خالدٍ أحدٌ [ غيرَ : منصوب،  لأن الكلامَ منفيّاً، و أنها تقدَّمت على المستثنى منه]٠
مثل : مَا احْتَرَقَتِ الدارُ غيرَ الكتبِ [ غيرَ : منصوب، لأن الكلام منفيّاً، و لم يَتقدم فيه المستثنى على المستثنى منه، لأنها وقعت في استثناء مُنقطع]٠
مثل : ما جاءَ القومُ غيرُ خالدٍ [ غيرُ : بدل من القوم مرفوع ].
مثل : ما جاءَ القومُ غيرَ خالد [ مستثنى منصوب لأنَّ الكلام تَامٌّ منفي ].
مثل : ما جاءَ غيرُ خالدٍ [ غيرُ : فاعل مرفوع لأن الكلام منفيا و لم يذكر المستثنى منه ] .
مثل : ما رأيتُ غيرَ خالد [ غيرَ : مفعول به  منصوب لأن الكلام منفيا و لم يذكر المستثنى منه ].
مثل : مررتُ بغير خالدٍ [ غيرِ : مجرور بحرف الجر لأن الكلام منفيا و لم يذكر المستثنى منه].

4.المُستثْنى بِخَلا و عَدَا و حاشا
Mustatsna’ jenis ini memiliki dua hukum, yaitu:
o   Manshub sebagai maf’ul bih, karena dianggap sebagai fi’il madhi.
Contoh:
جاءَ القومُ خَلا عليّاً [ علياًّ : مفعول به منصوب ].
o   Majrur karena dianggap sebagai huruf jar.
Contoh:
جاءَ القومُ خَلا عليٍّ [ عليٍّ : اسم مجرور بخلا ].
5.ليس ولا يكونُ
ليس ولا يكونُ merupakan bagian dari fi’il naqis. Namun terkadang keduanya bermakna ististna’. Mustasna’ ليس ولا يكونُ keadaannya manshub selamanya, karena ia sebagai khabarnya.
Contoh:
جاءَ القومُ ليس خالداً، أو لا يكون خالداً.





NAKIRAH DAN MA’RIFAH




NAKIRAH

Nakirah yaitu isim yang belum/tidak  jelas.
Contoh: ولد  : (seorang) anak laki-laki.
Kata “ولد “ adalah isim nakirah. Dari segi makna, kata tersebut belum jelas atau masih umum. Dari segi tanda, secara sederhana dapat dikatakan, tidak menggunakan alif dan lam ( ال  ) . Karena, jika ditambah dengan alif dan lam menjadi الولد  maka makna menjadi “ anak laki-laki itu “ . Dengan demikian tunjukannya menjadi jelas karena ada kata “itu”/ ال .

MA’RIFAH
Ma’rifah adalah lawan dari nakirah. Berarti maknanya adalah isim yang sudah jelas. Ada bebrapa isim yang sudah dianggap jelas (ma’rifah), yaitu:

1.    IsimDhamir (  اسم الضمير  )

Yaitu isim ma’rifah yang mabni, yang menunjukkan mutakallim, mukhatab, dan ghaib. Seperti “  أنا ، نحن ، هو ، انت ،  ....  “ .


2.    Isim Alam (  اسم العلم   )

Yaitu isim yang menunjukkan nama  seseorang, tempat , atau sesuatu yang seperti itu. Seperti kata “ Muhammad, Jakarta, Indonesia,  Sungai Nil , dan lain sebagainya.
Isim Alam terbagi tiga;

1)      Kunyah (  كنية  )
Yaitu setiap tarkib/susunan kata yang diawali dengan kata-kata “  أب ، أم ، ابن  “.
Contoh:
 أبو بكر ، أم كلثوم ، ابن عمر ....

2)      Laqab (  لقب  )
Yaitu sesuatu yang dilabel/dinamai dengan suatu sifat . Dalam ðbahasa Indonesia disebut sebagai gelar.
Contoh:
 الحافظ ، الصديق ، المأمون ، ....

3)      Nama ( اسم  )
Yaitu sesuatu yang bukan kunyah dan bukan pula laqab. Isim ini memiliki beberapa bentuk:
o   Mufrad ( مفرد   )
Yaitu apabila isim/nama tersebut tunggal/satu kata.
Contoh:
علي ، محمد ، محمود ، ....
o   Murakkab Idhafiy (  مركب إضافي  )
Yaitu nama yang berasal dari tarkib idhafiy (mudhaf mudhaf ilaih).
Contoh:
عبد الله ، عبد الغفار ، نور الهداية ، ....
o   Murakkab Mazjiy (  مركب مزجي  )
Yaitu nama yang tersusun bukan bentuk mudhaf mudhafun ilaih.
Contoh:
بور سعيد ، بوكيت تنجي ، ...

3.    IsimIsyarah ( اسم الإشارة  )

Yaitu Isim ma’rifah yang menunjukkan sesuatu yang jelas dengan cara memberi isyarat. Isim-isim isyarah tersebut diantaranya:
هذا ، هذه ، ذلك ، تلك ، .......
Pembahasan tentang isim isyarah lebih lengkap silakan cek DISINI.

4.    Isim Maushul ( اسم الموصول  )

Yaitu isim ma’rifah yang menunjukkan sesuatu yang jelas dengan perantara jumlah setelahnya yang disebut dengan Shilah.
Di antara isim maushul tersebut yaitu:
الذي ، التي ، الذين ، اللاتي ، ....
Pembahasan isim maushul lebih lengkap silakan cek DISINI.

5.    Isim Ma’rifah dengan Alif Lam ( المعرف ب ال  )

Yaitu setiap isim nakirah yang diberi  ال di awalnya maka akan menjadi isim ma’rifah.
Contoh:
كتاب (الكتاب) ، قلم ( القلم ) ، مدرسة (المدرسة) ، ....

6.    Idhafah ke isim Ma’rifah
Setiap isim nakirah yang diidhafahkan isim ma’rifah maka ia menjadi ma’rifah.
Contoh :
باب ( باب الفصل) ، مكتبة (مكتبة الجامعة) ، غرفة (غرفة الجلوس) ، ...

7.    Munada Maqshud   (  منادى مقصود  )
Yaitu isim nakirah yang memperoleh ma’rifah dengan cara Nida’
Contoh:
يا بائع ، يا مدرس ، يا قادرون ، ....


Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images